Skripsi kini hanyalah sebuah kenangan (parttwo)

 

Juli, 2019

            Bulan juli disibukkan dengan pengerjaan revisi dan bab 4 skripsi. Aku bolak-balik perpus kampus- rumah atau perpus pusat- rumah, bahkan perpusda-rumah untuk mengerjakan skripsiku. Oh ya fyi aja, alasan aku sangat bersemangat untuk menyelesaikan skripsiku selain aku ingin segera wisuda ialah segera pulang ke Surabaya dan tinggal bersama keluargaku lagi. Maka dari itu, aku sungguh sangat bersemangat ehehe.

            Setelah mengerjakan bab 4, aku juga melakukan bimbingan dengan dosen B. Bimbingan dengan dosen B itu nyaman. Kita bisa berdiskusi dengan santai dan cara beliau menerangkan juga enak dan mudah dipahami.

Agustus, 2019

            Bulan Agustus, menjadi bulan kesengsaraan diriku hohoho. Kenapa? Aku mendapatkan sakit asam lambung untuk pertama kali, karena stress dengan tuntutan ini itu. Kabar gembiranya ialah abstrak yang aku kirimkan untuk mengikuti seminar internasional ternyata diterima. Alhamdulillah. Namun, aku harus sangat sangat berjuang dengan keras untuk membuat artikelnya dalam waktu satu bulan. Eh sebenernya, bukan aku sih yang ngerjain. Ya bisa dibilang dosen B dan aku yang mengerjakan. Aku harus cepat untuk transkrip 6 video dan mengambil data kuesioner lewat online. Huwaaa. It was tiring. Sumpah. Kesalahanku ialah aku tidak bisa bercerita ke siapa-siapa tentang perasaan itu. Alasannya ialah aku merasa mereka memiliki masalah yang sama denganku dan aku takut responnya malah bikin aku down. Maka dari itu aku memendam dan berujung stress dan sakit asam lambung. Whoaa. The memorable moment aseliik.

September, 2019

            Bulan ini, dosen B ingin aku fokus untuk preparation buat presentasi bulan oktober. Kami juga masih diskusi dengan hasil data dan lain sebagainya. Nah, di bulan ini juga aku mulai bimbang, apakah aku harus nambah UKT tahun depan gara-gara skripsiku sedikit macet karena pengerjaan seminar internasional itu. Alhamdulillahnya, minggu akhir bulan September, dosen B mulai menyinggung skripsiku.

 

Oktober, 2019

            Bulan ini adalah bulan dimana aku merasakan jadi presenter di seminar internasional bersama dosen B. Pengalaman yang tak terlupakan. Setelah seminar internasional, aku langsung fokus dengan pengerjaan skripsi. Aku juga sudah mulai mengumpulkan satu bendel skripsi kepada dosen B. Bulan oktober, aku fokus bimbingan dengan dosen B.

 

November, 2019

            Bulan November, dosen B sudah hampir selesai bimbingan denganku dan beliau mengarahkanku untuk memberikan satu bendel skripsi kepada dosen A. Seperti yang kalian sudah tau, jika bimbingan dengan dosen A bakalan lama. Dari awal pengumpulan hingga akhir November, aku baru revisian satu kali. Hal ini dikarenakan “bimbingan beliau bukan hanya aku” ehehe.

Desember, 2019

            Bulan desember, teman-teman terdekatku sudah sidang skripsi. Sementara aku masih menunggu revisian dari dosen A. Hal yang mengejutkan adalah akhir pengajuan sidang ialah minggu ketiga di bulan ini. Aku sudah mulai menyiapkan mental untuk menambah UKT hanya untuk sidang skripsi. Fyi aja, UKT-ku ialah 4 juta. Bayangkan aja, tinggal sidang aja masih bayar UKT segede itu. Beruntungnya itu, teman-temanku bahkan seniorku kompak untuk mendekati dosen A untuk segera mempercepat revisian agar bisa menyusul sidang. Hingga dosen B dan Kajurku juga berusaha mendekati beliau. Ada hal yang membuatku saat itu ingin menangis yaitu dosen A sempat bilang bahwa “sudah biar anak-anak nambah UKT lagi”. Nyesss. Masalahnya, aku bayar UKT masih dibayar oleh kedua orang tuaku. Aku nggak bisa seenaknya minta. Tapi, aku mulai mendekati beliau dengan doa-doa setelah aku sholat fardhu.

            Alhamdulillah, doaku dijabah. Dosen A memanggilku untuk mengambil revisianku. Besoknya, aku datang menemui beliau eh ternyata beliau lupa membawa skripsiku.

Dosen A: Maaf mbak, saya lupa membawa skripsimu. Kamu juga nggak mengingatkan saya sih.

Aku: Iya pak, nggak apa-apa

Dosen A: Bagaimana ini? Apa kamu ke rumah saya untuk ambil skripsimu?

Aku: Iya pak, tidak papa.

Plot twist sekali, ternyata hujan deras datang dan aku nggak jadi ke rumah dosen A.

Besoknya, pukul 7.00 pagi, aku menghubungi lewat pesan WhatsApp untuk mengingatkan beliau untuk membawa skripsiku. Pukul 8.00 pagi, aku sudah ada di kampus untuk menemui bapaknya dan segera mengurus sidang skripsi.

Aku : Pak, saya sofya,

Dosen A: Oh iya mbak, duduk dulu. Sebentar ya. (sambil cek hp)

Mood bapaknya baik karena masih pagi ehehe.

Dosen A: Nah ini mbak skripsinya. Sudah saya cek, sudah mbaknya segera daftar sidang ujian skripsi.

Aku: iya pak, terima kasih.

Dosen A: Iya, cari jadwal yang sekiranya semua dosen bisa. Jangan ada satu yang nggak bisa. Dan jangan lupa dikasih map ya.

Aku: Iya pak. Terima kasih.

Setelah percakapan kecil tersebut, aku langsung daftar sidang ujian. Aku mulai mengurus perintilan kecil dan sembari menentukan jadwal ujian. Yap aku memilih tanggal 30 Desember 2019 sebagai tanggal ujian sidang skripsiku. Fyi aja, bendelan skripsi dari dosen A masih mulus, seperti baru atau emang baru. Lumayan buat peganganku pas ujian. Tidak membuang uang lagi.

Tanggal 30 Desember 2019,

Aku sudah ujian dengan dosen penguji pertama terlebih dahulu dikarenakan beliau ada urusan pada tanggal 30 Desember 2019. Nyatanya, beliau bisa datang. Mungkin takutnya nggak bisa datang kali ya. Kagetnya ialah dosen A nggak bisa datang ke sidangku. Aku langsung sujud syukur. Tbh, aku lebih takut dengan dosen A dibandingkan dosen pengujiku.

Selama sidang, aku nervous dan pingin cepat-cepat kelar. Kalau berusaha diinget lagi, momen sidang itu nggak bisa diinget. Kayak tiba-tiba ilang aja. Aku lupa apa yang aku jawab dan dosen pengujiku tanya apa ahahaha.

Alhamdulillah tanggal 30 Desember 2019 aku sudah sidang dan sukses.




 

Itulah cerita singkat perjalanan skripsiku. Lumayan liku-liku. Emang bener deh, proses pengerjaan skripsi itu harus sabar, nggak boleh compare sama orang lain karena emang jalannya beda. Dari proses itu aku banyak belajar untuk lebih bisa menerima diri sendiri dan nggak boleh membandingkan proses kita dengan proses orang lain. Aku tau itu sulit sekali kalo nggak compare, tapi tolong usahakan tidak compare yaaa. Dosen pembimbing kalian kan beda, awal mulai juga beda, kemampuan kita juga beda dan yang paling penting skripsi kita aja beda dengan yang lain. Mengapa kita harus memaksakan untuk sama? Iya kan? Semangat buat kalian pejuang skripsi. Apalagi online gini ya. Semangat dua kali lipat.

Thankyou sudah baca. 

SofyaPoerwanta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hantu 👻

satu tahun bersama sesosok NPD

selamat ulang tahun, aku 🎂🎉🥳