kisah jenaka
Dia hadir menyapaku dengan mata dan senyum bagaikan mbak dan mas sales Indomaret. Aku menjawab sapaannya dengan perasaan malu bagaikan tanaman putri malu yang telah disentuh oleh manusia. Semua indah sedari awal.Kita saling bersua tanpa absen sekalipun. Saling mengabari. Saling mendukung. Saling jail. Saling menyakiti juga diakhir. Eh terlalu cepat ceritanya. Tunggu dulu dong.
Kita saling mengenal satu sama lain karena takdir Allah pfft dramatis. Rahasia deh kalau awal perkenalannya.
Tiba-tiba di suatu hari yang cerah. Dia udah nggak sabar ketemu aku. Aw. 😂 Kita bertemu di suatu tempat yang sungguh tidak romantis. Tapi, hal itu menjadi lebih romantis ketika aku lalui bersamamu pftt. Inget. Diakhir bakalan saling menyakiti woi hahaha 😂. Andai aku tau akhir kisah kita berdua seperti aku menulis ulang cerita kita. Sepertinya tulisan ini tidak ada, karena aku lagi senang-senang bersamamu hahaha. Tempat yang tidak romantis itu ialah warung bakso yang aku nggak tau itu enak apa nggak. Aku random aja milih tempat karena aku udah nggak sabar mau ngobrol sambil menatap matamu bwahaha 😂. Aku tulis se-dramatis ini buat nunjukin kalau aku sebegitu sukanya sama kamu sampe gemes gini (read: sebaliknya).
“eh sini aja”
“oke deh”
Kita akhirnya ke tempat yang tidak romantis itu. Walaupun
nggak romantis, saat itu aku menawari menu ke kamu dengan nada “Fa” yang
lembut.
“kamu mau makan apa? Bakso sapi atau ayam?”
“es nya apa?”
Kamu menjawab, “aku mau bakso sapi dan es jeruk aja”
“yaudah mbak, pesen bakso sapi 2 dan es jeruk 2” ucapku
kepada mbak bakso
Namanya lagi kasmaran ya, aku maunya samaan kayak kamu (pft)
Kita mengobrol banyak topik. Namun, topik yang aku ingat
ialah ketika kita saling berdebat mengenai racikan bakso. Sungguh berfaedah.
“mana enak sih sof, makan bakso nggak pakai saos sama kecap”
“ya enak lah. Kasih sambel banyak aja udah enak. Kalau kasih
saos sama kecap tuh rasanya manis”
“loh justru itu enaknya. Manis”
“aduh, aku tuh udah manis nggak perlu lagi racikan itu”
ucapku geli
Nah ini nih poin penting. Setelah aku bilang gitu, tangan
jahilmu itu mengusap puncak kepalaku.
*deg
Yuk yuk skip skip
Kita makan bakso di tempat yang tidak romantis itu sekaligus
me-review kekenyalan bakso beserta membandingkan warung bakso. Kembali. Topik
yang sungguh menarik. Kita pun kembali ke rumah masing-masing karena kita kan belum menjadi pasangan suamiistri pft. Kalau ditanya gimana perasaanku saat itu. Ya tentu seneng banget. Aku akhirnya bisa ngobrol sama kamu sambil menatap dan bonus kamu pat pat kepalaku. Njirlah gak sopan ya. Tapi aku mau-mau aja lagi. Tolol. Seneng banget tanpa tau akhir cerita bakal sakit. Anjir memang.
“aku seneng banget hari ini” isi pesanku kepadanya
“ iya sama. Sering-sering deh kita jalan” balasnya
Kembali. Kalau aku tau akhir dari kisah ini, aku ingin
berteriak PRET! Hahaha
Oh ya, kita nggak pernah putus saling mengabari. Kita udah kayak nggak bisa nafas kalau nggak ngabari bwahaha.
“aku lagi kerja sof”
“iya semangat ya”
“kamu juga”
“aku capek banget nih”
“yuk bisa yuk. Kapan kita jalan lagi?”
“aku sakit sof”
“aduduh kasian. Istirahat ya kamuu”
“aku ketemu temenku”
“iya, enjoy ya!”
“aku mau ketemu kamu lagi sof”
Hadeu kasmaran tolol. Kalau diinget bahkan sampe aku nulis hari ini, aku ketawa sama sikapku dulu. Udah tolol. Cringe pula. Kurangin deh hahaha.
Satu hari, aku merasa percakapan kita sudah tidak intens
kembali. Dari awal yang nggak bisa nafas kalau nggak ngabari menjadi aku hanya
sebagai inhaler ketika dia sedang sakit saja. Sialan mah kata Juicy
luicy.
“sof, aku mau ketemu temenku”
“kirim pap” (bukan foto nudes ya kawan HAHAHa)
“aduh ganteng banget anak sapani”
Sudah memuji eh malah ketemuan sama yang lain. Segala ijin sama aku. Oh ya, selain jadi teman sambatan dia anggep aku kayak maknya. Ijin segala mau ketemuan sama kenalannya. Si anjir.
Semakin renggang dan semakin tidak ada kabar. Kalian tau kan kalau aku warga Surabaya. Darah bonita ini seketika bergejolak. Umpatan demi umpatan ingin aku sampaikan di hari dimana harusnya aku tenang malah bikin jiwa bonita bergelora hahaha.
“sof, aku mau bilang sama kamu”
“apa baby?” jawabku. Eh enggak pake baby ding hahah canda.
Gak ada hubungan kok panggil baby pfft.
“aku tuh lagi deket sama seseorang”
Aku dengan rasa percaya diriku. Anjir lah, ini pasti aku
hahaha.
“deket sama siapa?” jawabku dengan sok tau yang lagi lagi
nggak tau beberapa menit kemudian bakal nge-reog.
“deket sama temanku. Maaf ya”
SI ANJIR. AFTER WE’VE BEEN TOGETHER BROU.
“oh iya. Aku juga” ucapku
“tapi aku nggak mau
hubungan kita aneh”
LAH SI ANJIR. UDAH NYAKITIN, EGOIS PULAK.
“lah gimana sih. Kamu emang nggak kasian sama yang lagi kamu
deketin?”
“maka dari itu, aku mikirin dia”
SI ANJIR MAKIN BERULAH. DIA MIKIRIN SI DIA. NGGAK MIKIR PERASAAN AKU?
Namun, tidak mau berdebat dengan si pemilik otak ayam. Aku abaikan
segala hubungan kita yang berawal dingin seperti AC Indomaret dan berakhir
dengan sikap yang dingin bagai AC Bank yang baru diganti freonnya. Sekian.
Kalau kalian tanya aku. Eh kamu nggak papa sof?
GAK PAPA KOK. AKU KUAT. *sambil nyemplung kayak pemeran film
A little thing called love hahaha.
Nggak nggak. Aku nggak papa guys. Aku punya cadangan juga
sebenernya.
*lah si anjir
BWAHAHA. Ya, dia punya cadangan. Aku juga dong eheheh.
Ini cerita fiksi ya teman-teman. Kalau dianggep kisah nyata boleh juga. Aku nggak memaksa. Soalnya diksi-nya udah kayak ngerasain beneran ya. Tapi emang beneran. Eh enggak. FIKSI. Ini KARANGAN ya.
P.S: Kalau kamu baca, fak yu. Aku maafin tahun depan aja ya pas idul fitri. Kalau nggak bisa tahun depan, ya tahun depannya lagi pfftt.
Sofya
Dear Sofya. I am interested in reading your short experience. Break a leg
BalasHapusHahaha that was interesting story soya
BalasHapus