Lulu dan Rumor (a fiction story)

Disclaimer: This is a fiction and it is inspired by Lucas NCT,WayV, SuperM. I miss him and I hope he's okay right now. 

Harapan atas rasa lelah ini akan berujung dengan banyaknya penggemar yang mendukung semua yang aku lakukan. Perkenalkan aku adalah Lulu, salah satu penyanyi yang mulai terkenal. Aku sudah mulai karir ini di tahun 2017. Syukurnya banyak orang yang suka dengan karyaku. Aku selalu mensyukuri setiap waktu. Hal itu juga menjadi salah satu kekuatanku untuk selalu produktif untuk menghasilkan karya yang terbaik setiap saat. Akhir-akhir ini aku mulai menyusun salah satu karyaku. Karyaku saat ini menjadi salah satu karya yang terbaik yang aku punya selama ini. Aku membuat atau meng-compose laguku sendiri. Beruntungnya lagi, lagu ini akan aku lakukan dengan salah satu rekanku yang sangat aku hormati. Kamu bisa membayangkannya bukan? Aku membuat laguku sendiri, serta lagu ini akan aku nyanyikan dengan rekan yang selama ini aku hormati.

Hari demi hari berlalu hingga waktu tiba aku mengumumkan lagu baruku akan muncul. Namun, seperti para psikologku bilang bahwa ada beberapa hal yang bisa aku kendalikan serta tidak bisa kendalikan. Salah satunya adalah kejadian tepat dua hari sebelum perilisan laguku. Ada salah satu rumor yang sungguh tidak bertanggung jawab menyerang diriku. Salahku bahwa aku tidak menyiapkan perasaan jika hal yang sungguh tak bisa aku kendalikan ini muncul. Perasaanku sungguh hancur. Mentalku seperti dihancurkan oleh alat penumbuk daging hingga menjadi terpecah belah. Kabar ini membuatku tidak bisa berpikir normal lagi. Namun, aku ingat sekali bahwa aku adalah orang yang kuat. Orang yang bertanggung jawab. Aku coba bangkit dan menghadapi masalah ini. Parahnya lagi, hal ini tidak hanya menyerangku saja, tetapi rekan yang akan aku ajak kolaborasi pun merasakannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kala itu.

Manajerku memanggilku untuk bertemu kepala agensi yang menaungi diriku. Aku pergi dengan sisa kepingan perasaan yang sudah aku satukan kembali dengan rasa berani. Aku sungguh malu menatap rekanku hingga aku tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Hingga satu kata “Maaf” yang seharusnya aku lontarkan saja tidak bisa. Aku terlalu malu. Atasan bertanya dengan semua rumor tak bertanggung jawab tersebut. Aku membela diriku bahwa semua rumor yang tersebar itu hanyalah sebuah bohongan belaka. Saat itu sungguh aku tidak mencurigai siapapun. Aku hanya bisa menyalahkan diri bahwa memang aku sungguh pantas mendapatkan kejadian ini.

Setelah perbincangan cukup lama. Akhirnya, agensiku meminta diriku untuk menulis ucapan minta maaf atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan. Lucu memang, tapi ini harus. Aku harus. Tentang rekanku, dia sungguh selalu ada untukku. Dia selalu mengatakan “tidak papa”. Tidak apa-apa hanyalah kata-kata yang cukup menenangkan. Aku menangis dipelukannya serta mengucap satu kata yang tak sempat aku katakan sebelum ia menghampiriku untuk menenangkanku.

“Maaf” kataku sambal menangis di pelukannya.

Dia mengelus pundakku dan mengatakan “tidak apa-apa”. Aku merasakan betul degup jantungnya yang menunjukkan bahwa dia sungguh sedang apa-apa. Aku mengucapkan kata “maaf” puluhan kali dipelukannya. Lalu, ia melepaskan pelukannya.

“Lulu, tidak apa-apa. Semua hal ini terjadi tiba-tiba. Tolong jangan salahkan dirimu. Aku memang sedih, namun aku sungguh mengkhawtirkanmu. Tolong jaga dirimu” ucapnya

Aku pun mengangguk menandakan bahwa aku berjanji untuk tidak apa-apa.

Aku pulang dan mengingat semua hal yang aku siapkan hancur menjadi tidak berarti. Cemoohan serta dukungan menghujani salah satu halaman social mediaku.

“aku hancur. Aku hancur” ucapku dengan tangisan.

Hari demi hari berlalu. Aku diminta untuk merefleksikan diri atas perbuatan yang tak pernah aku lakukan.

Hari pertama: aku masih setia duduk hingga tertidur di atas lantai.

Hari kedua : aku masih melakukan hal sama

Hari ketiga hingga hari ketujuh: aku masih dengan menyalahkan diriku sendiri.

Hari kedelapan hingga hari ke empat belas: aku berusaha membuat diriku baik-baik saja

Hari keempat belas hingga sekarang: aku masih dengan perasaan bersalah dan sungguh baik-baik saja.

Jujur saja setiap hari aku selalu melakukan konseling mentalku melalui layar laptop. Aku sungguh sangat berterima kasih atas psikologku, Bu Pipi yang selalu ada dan memberikan kata-kata yang indah hingga aku bisa menerima diriku sendiri.

Hari ini, aku masih sedang masa liburku. Aku ingin menata semuanya dari awal dengan kondisi yang lebih baik lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hantu 👻

satu tahun bersama sesosok NPD

selamat ulang tahun, aku 🎂🎉🥳